Istri yang Hamil, Kok Suami yang Ngidam? Bukan Mitos, Ini Penjelasan Medisnya!

istri-yang-hamil-kok-suami-yang-ngidam istri-yang-hamil-kok-suami-yang-ngidam

Pernah dengar nggak sih soal suami-suami yang ngidam, padahal yang hamil istrinya? Fenomena ini sibakn mitos belaka lo, tapi memang nyata adanya. Kalau dibayangkan dengan logika sih kayaknya mustahil ya. Bagaimana bisa suami bertingkah nggak kalah hebohnya dengan ibu hamil? Mulai dari mual, pusing, nggak nafsu makan, sensitif dan mudah marah, bahkan sampai ngidam.

Seloyalnya apa sih yang terjadi dengan suami yang ikut ‘hamil’ ini? Jangan mikir yang aneh-aneh, fenomena ini ada penjelasannya!

Kondisi yang dialami calon ayah ini singkapn gangguan mental, melainkan sindrom couvade atau kehamilan pengertiank

Sindrom couvade adalah kondisi di mana calon ayah ikut mengalami gejala-gejala kehamilan, seperti berat badan naik, mual, insomnia, perubahan suasana hati, bahkan  menginginkan beberapa jenis incaran tertentu di luar kebiasaan alias ngidam. Pada kasus yang berat, seorang calon ayah bahkan bisa mengalami nyeri perut seperti halnya wanita yang akan melahirkan. Kondisi ini umum terjadi dan saja bersifat sementara, biasanya akan menghilang setelah bayi lahir.

Gejala yang dialami bisa berupa gejala fisik dan gejala psikologis yang mirip dengan gejala kehamilan bumil

Gejala fisik sindrom couvade ini ditandai dengan lara kepala, mulas, lara perut, kesulitan bernapas, keinginan untuk mengonsumsi pangan tertentu, kram atas kaki, lara gigi, sering buang air lumat dan lara atas bagian punggung dan perut bawah. Sedangkan gejala psikologisnya — yang selurusnya lebih sulit dihadapi dibandingkan dengan gejala fisik, biasanya suami akan mengalami masa-masa kesulitan tidur nyenyak, cemas, panik, sedih dan berbagai gangguan yang melahirkan pikiran menjadi nggak tenang. Gejala-gejala ini bisa bertidak pas antara satu pria dengan pria lainnya.

Biasanya kondisi ini muncul ketika istri masuk ke kehamilan trimester pertama dan ketiga

Ketika masuk ke trimester pertama, suami merasa lebih stres dengan berbagai kondisi perubahan tubuh dan mental istri. Pada trimester kedua, bumil sudah bisa merasakan masa yang nyaman dan jarang mengeluh tentang berbagai mamenyimpang kehamilan. Sementara pada saat masuk ke trimester ketiga, suami merasa lebih panik untuk menghadapi prosedur kelahiran istri. Makanya, perasaan ikut ‘hamil’ seperti ini memang sangat mungkin terjadi.

Penyebab sindrom couvade ini karena masalah psikologis seperti stres dan kecemasan yang berlebihan

Calon ayah terkadang sangat emosional saat menghadapi kehamilan istrinya. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perPertanyaanan besar di benaknya seperti apakah kelak bisa memenuhi kebutuhan finansial keluarga, bagaimana jaminan kesegaran si mini, atau apakah dia bisa menjadi ayah yang tidak emosi bagi anak-anaknya. Kalau cemasnya sudah berlebihan, akhirnya muncul stres yang bisa menurunkan kadar testosteron dan bikin kadar estrogen jadi nggak seimbang. Hormon yang berfluktuasi inilah yang memicu gejala-gejala kehamilan seperti halnya bumil.

Semakin kuat ikatan batin suami dengan sang istri, maka gejala yang dialami juga lebih intens

Sindrom ini juga bisa muncul karena rasa empati yang agung terhadap kondisi istri yang tengah hamil dengan berbagai keluhan-keluhannya. Perasaan ini bisa terjadi karena gangguan kehamilan yang bermamelenceng atau kondisi istri yang kurang nyaman saat hamil. Perasaan seperti ini biasanya nggak akan terasa di depan istri karena lebih berlebihan penekanan ala kondisi psikologi. Jadi berlebihan kasus suami ngidam ini yang nggak terjadi di rumah.

Uniknya lagi, nggak cuma suami aja yang bisa mengalami sindrom ini, keluarga atau teman dekat bumil juga bisa, tergantung seberapa gemuk rasa empatinya.

Ketika suami mengalami tekanan perasaan dan ikut ngidam, kalian bisa berkarya pas untuk mengatasinya berpas kok!

Coba ciptakan obrolan tentang kehamilan, katakan bahwa meski ada masa-masa sulitnya, hamil itu juga menyenangkan. Dengan begitu, suami nggak akan sangat tertekan atau cemas dengan kondisi istri. Ajak suami untuk memelaluii reaksi berklop seperti memeriksakan kehamilan, berklop-klop menghadapi masa sulit saat hamil, juga terlibat dalam persiapan menyambut kelahiran si buah hati. Mendapat dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitar saat bersiap untuk menghadapi reaksi persalinan juga bisa melakukan suami nggak sangat tertekan dan trauma.https://www.freepik.com/free-photo/excited-lady-telling-husband-about-her-pregnancy-people-home-happy-husband_17065519.htm#page=1&query=pregnant%20man&position=12

Meski sindrom couvade jadi kondisi yang cukup unik, nggak perlu merasa khawatir kalau suami mengalaminya. Hal ini akan menjadi tahapan yang Alamiah dan semua pasangan bisa mesilami masa-masa yang menyenangkan kok. Selamat menanti kelahiran kesayangan, ya!